3 April 2011

Sapi Lada Hitam

Awalnya cuma Arya yang suka Sapi Lada Hitam ala 21 cafee. Lama-lama ayah dan Fira juga suka.  Tiap  ke mall yang dipesan slalu menu yang sama, sampai-sampai kenal akrab sama mba-mba dan di boss cafe sana:).  Tapi skarang bakal jarang makan disana nih, soalnya acara bersih-bersih rumah di hari minggu ternyata menghasilkan temuan kitab resep. 2 resep yang dipesan Arya dan Fira: Sapi Lada Hitam dan es Cappucino. Dengan restu ayah (yang lagi sakit...maaf ya ditinggal), bertiga berangkat ke superindo, blanja blanji. Pulangnya langsung masak ditemani dan dibantu 2 permata hatiku. Begitu selesai, sapi lada hitamnya langsung diserbu.....komentarnya: enaaaak, tapi kurang pedes. (hehehe, ibu ga biasa pake lada hitam, jadi blom bisa mengira-ngira banyaknya). Es cappucino masih nginep di kulkas karena yang mesen masih kekenyangan makan sapi lada hitam:) . Pesan tambahan dari Arya: bu, mulai skarang, tiap minggu makannya sapi laa hitam ya? . Siaaaap sayangku:)

SAPI LADA HITAM
Bahan: 
400 gram daging sapi (saya pilih yang top side)
1 buah paprika hijau, potong kotak
2 buah cabai hijau (saya nggak pake krn takut terlalu pedes)
1 buah bawang bombay, diiris tipis
6 siung bawang putih,, cincang kasar
3 sendok makan minyakgoreng
1 sendok makan minyak wijen
100 ml air
2 sendok teh merica hitam bubuk (saya pakai 1 sendok teh, makanya kurang pedes)

Bahan Perendam:
3 sendok makan kecap manis (saya pakai merk bango)
1 sendok makan kecap asin (saya pakai merk ABC)
2 sendok makan saos tiram (saya pakai merk ajinomoto)
1 sendok makan kecap ikan (lupa merknya apa...tapi yang jelas ada lebel halalnya:))
2 sendok makan sambal tomat (mek del monte, sesuai persediaan yg ada aja)
1 sendok teh gula pasir

CARA MEMBUAT:
  1. campur semua bahan perendam. masukkan daging sapi yang sudah dipotong kotak. Diamkan kurang lebih 15 menit
  2. Panaskan minyak goreng dan minyak wijen, masukkan bawang putih, tumis sampai harum
  3. Masukkan daging berikut bumbu perendamnya. Masak hingga daging berubah warna (mengecil dari ukuran sebelumnya).
  4. Tambahkan air, masak terus sampai air kering dan bumbu terlihat mengeluarkan minyak (dalam resepnya boleh ditambahkan gula pasir atau garam. Tapi menurut saya rasanya sudah pas, cuma perlu tambahkan sedikiiiit gula pasir buat menajamkan rasanya)
  5. Masukkan paprika, bawang bombay dan lada hitam. Masak sebentar sampai bawang agak layu. Matikan api dan siap dihidangkan
(fotonya masih di kamera, blom sempet diaplot)

Selengkapnya...

5 Februari 2011

Black Forest dengan Almond

Cake ini dibikin barengan sama cup cake biru buat Dhito. Isinya Black Forest (yang bikinnya udah faseh cuma black forest, hehehe). Kali ini nyoba bereksperimen di model. Tapi bingung. Inget punya almond slice yang disiapin buat bikinin kue coklatnya Shafira, ya udah, skalian aja disangrai, sambil nunggu kuenya dingin:). AKhirnya.....berkutetlah awak nempelin almond satu perstu (blom tau gimana cara praktisnya nempelin tapi aman). Coklatnya diserut pake pisau baru yang ujungnya bergerigi. Hasil serutnnya jadi cantik, bergelombang. Atasnya dikasih cery, biar ngirit satu cery dibagi dua. Yang satu utuh pake tngkai, yang lain tanpa tngkai (kalo dikasih tau ga tu kan cery-nya udah ga utuh:). Tapi.....kue ini sampai hari ini belum terkirim. Maklum, tukang masak merangkap kurir lagi sibuk rakernas....mudah-mudahan ntar sore  bisa nyampe di tempat tujuan:)

Selengkapnya...

cup cake untuk Dhito

 
Ini cup cake yang dibuat untuk Dhito.
Dhito sih nggak ulang tahun, cuma karena mati gaya, jadi bikin tema ulang tahun deh...:)  Trus...ga tau juga kesenengannya Dhito apa. Kebetulan ada seperangkat mobil balap, jadi manfaatin yang ada aja. Warna birunya terlalu soft buat cowok kayaknya sih. Tapi gpp ya Dhito? Cup cakenya sendiri nyobain resep baru yang di dapat dari bukunya mba Gemi Miranti. Judul resepnya 'Premium Cup Cake' (ntar kapan-kapan diposting ya resepnya). Daemnya dikasih coklat sebagian biar didapat motif marmer. Dari satu resep cuma dapat 12 setengah cake. Nah...yang setengah itu yang dicicipin. Kata Fira sih enak rasanya (namanya juga premium De, telurnya kuning thok:)) . Kuenya diambil sendiri sama Dhito, dianter sama mama dan papa. Makasih buat om Vanda (papanya Dhito) yang bawain oleh-oleh dari Bangkok buat Shafira. Maksih juga buat Lani yang nyempetin mampir ke rumah (padahal sibuk ngurusin reuni ya cin?).  


Selengkapnya...

gong ci fat cai

Selengkapnya...

1 Februari 2011

Black Forest lagi:)

Selengkapnya...

27 Januari 2011

Desain dapur kami

Ini dapur idaman saya banget. Sampe bisa jadi dapur kayak gini, penuh perjuangan dan do'a, hahahaha. Kalo saya aplot disini bukan berarti saya pengen pamer lho ya....saya cuma inget pengalaman waktu dulu mau bikin dapur. browsing sana-sini kok ga nemu info yang cukup buat saya bikin  dapur idaman. Yang ada penawaran jasa merancang dan membuat dapur. Maka pergilah saya ke salah satu perusahaan itu. saya datangi salah satu show room yang ada di dekat kantor saya. Disana saya liat contoh-contal dapur (plus lemari) yang buagus-buagus banget. Tapi......harganya ampyuuuun. Budget  yang saya punya saat itu buat beli  kaca kitchen setnya aja ga cukup, qiqiqiqi. Kalo dihitung-hitung, harga kitchen set yang paling murah di tmpat itu seharga rumah saya....huahahaha. Ya sudah, saya menghayal-menghayal aja dulu lah, sampai akhirnya tukang kusen di rumah kami menawarkan jasanya. Hitung-hitung, rasanya terjangkaulah. Lagipula dia kan cuma ngerjain yang berbentuk kayu-kayunya aja. Isi kitchen, sink, keran, dan lain-lainnya bisa kita cari sndiri. Karena waktu pengerjaannya yang butuh waktu berbulan-bulan, kami juga bisa ngumpulin uang dulu. Tapi itupun nggak langsung bikin kesepakatan. Ntar nunggu urusan kusen selesai dulu. Ya sudah, sambil menunggu waktu,mulailah saya dan suami berburu perabotan dapur. 
Kompor dan oven plus penyedot asapnya saya beli duluan dengan cicilan Bank Mandiri o% :), merk Technogas. Merk ini dipilih karena komponen di tungkunya menggunakan baja yang bagus dibanding merk lainnya. Yang lain sebagian baja, sebagian kuningan. Dari segi teknologi juga jadi alasan, karena kompor ini menutup aliran gas secara otomatis kalau terjadi kebocoran. Modelnya saya pilih yang simpel, yang ga banyak sudut dan celah supaya mudah membersihkan mengingat kompor nantinya bakal kena tumpahan masakan. 
Ovennya saya pilih yang model tanam, karena saya pengen dapur saya terlihat cantik. Oven ini dilengkapi dengan pintu berlapis, sehingga  panas oven ngga keluar. Kaca oven juga menggunakan teknik tertentu, sehingga aman disentuh saat oven beroperasi (gak panas) Syarat lainnya yang saya haruskan adalah ada pengatur suhu dan timernya, ada pengapina atas dan bawah.


Table topnya kami  berburu ke daerah Rawasari. Disana memang berjejer di sepanjang jalan toko marmer dan keramik dengan harga miring. Atas saran dari pemilik toko, kami pilih granit buat table topnya karena katanya lebih kuat, dan tahan terhadap goresan. Harganya dihitung permeter lari dengan ukuran lebar yang sudah standar. harga itu termasuk juga ongkos pemasangan dan pemotongan granit untuk disesuaikan dnegan bentuk dapurnya nanti. Karena jenis granit yang kami pilih belum ada barangnya, jadi kami indent dulu, dan itu artinya waktu lagi buat ngumpulin uang:) . Dalam perjalanannya, dana kami mencukupi buat bikin meja wastafel di kamar mandi yang terbuat dari granit yang sama.


Sink dan kerannya kami berburu ke daerah mangga dua. Disana ada salah satu toko yang menurut referensi temen harganya agak miring. Kami pilih sink import yang satu lubang (bukan yang terbagi dua), alasannya, saya nggak punya dapur kotor, jadi pasti penggorengan dan panci-panci gede bakal dicuci disini, dan itu perlu space yang besar. Kami pilih model yang diatasnya bisa dipasang rak pengering piring dan gelas, yang bisa dibongakr pasang supaya fleksibel. Segi penampungan kotoran juga jadi alasan memilih sink. Sink yang kami beli ini lubang penampungan air dan kotorannya gede, dengan tutup dobel. Tutup pertana terkesan rapi dan tanpa lubang, cuma bisa masuk air di bagian sampingnya. Kalau tutup ini diangkat, bisa masuk sisa-sisa makanan yang langsung ditampung sama keranjang kecil yang bisa diangkat lengkap dengan kawat penjinjingnya, sehingga memudahkan membuang kotoran.  Desain bawahnya agak melengkung buat tempat air supaya kalau wadah ini kering nggak meninggalkan bau.  Komponen pembuanganlimbah juga tahan suhu tinggi (kan saya suka bersihin lemak mentega pakai air panas:))
Krannya dipilih yang agak tinggi dengan aliran air yang tidak terlalu deras.yang sistem pengaturan airnya mudah dilakukan saat tangan penuh sabun alias ga perlu mutr-muter, dan mudah dirubah rah aliran airnya.
Pengaturan tempat untuk meletakkan barang juga disesuaikan dengan kebutuhan. Awal di desain, saya udah ngebayangin barang-barang apa aja yang saya perlukan buat bertempur didapur. Karena saya punya banyak perlengkapan baking, jadi  ya disesuaikan, artinya ada tempat kardus-kardus kue, ada tempat loyang-loyang dan ada tempat bahan-bahan kue. 
Keramik dinding dapur, kami hunting ke Mitra Kalimalang, toko bahan bangunan. Juga,.....keramik motifnya kehabisan stok, tapi kami sabar aja nunggu sampai stoknya datang (kira-kira 6 bulan kemudian). Kami ambil yang motif sendok garpu tapi sedikit abstrak nuansanya. 
Perlengkapan dalam (besi-besi buat rak piring dan gelas), juga kami pilih sndiri tapi dibeliin sama tukang kayunya. Cuma saya pilih sesuai kebutuhan, seperti rak piring yang nggak terlalu banyak mengingat kami cuma keluarga kecil. Rak gelas yang terpisah antara gelas sehari-hari dan gelas untuk tamu. Ada juga rak botol buat stock kecap, minyak, saos, madu dan sirop yang slalu ada di dapur. Sisanya kami biarkan menjadi ruangan lebar buat nyimpen perabotan masak lainnya.
Pernak-pernik dapurnya, saya berburu ke berbagai tempat. kali ini saya termasuk sabar menunggu sampai bentuk dan tipe yang sesuai saya temukan. Misalnya gantungan tempat tisyu yang baru saya temukan setelah 2 tahun dapur kami tempati:). Tapi kalo kitchenaid itu udah ada sebelum dapur ini ada lho.....hihihi.
Beberapa tips buat temen-temen muda yang sedang memperjuangkan mimpinya tentang dapur (ini berdasar pengalaman aja lho):
- rencanakan benar-benar kebutuhan yang kita perlukan didapur. Sesuaikan dengan kegiatan apa yang nantinya kita lakukan disana. Kalau misalnya punya wktu terbatas seperti saya, tapi pengen masakan beragam, saya putuskan beli kompor dengan banyak tungku sehingga bisa dipakai buat mengolah beberapa jenis masakan sekaligus.
komunikasikan benar-benar dengan pembuat kitchennya. Misalnya segi keamanan dari binatang-binatang kecil, peletakkan barang-barang yang nggak tahan lembab.
- Sabar dalam berburu pernak \-pernik pendukung yang kita butuhkan. Biasanya kalau kita sabar, kita bisa menemukan barang yang cantik dengan harga miring tapi kualitas bagus.
- Rajin mengunjungi pameran-pameran yang terkait dengan isi dapur. Kompor dan oven yang saya beli di pameran misalnya,  selisih harganya  sampai jutaan rupiah dibandingkan dengan di show room.
- Sesuaikan juga model dapur dengan waktu yang kita miliki untuk perawatannya. Terus terang saya nggak punya banyak waktu buat urusan dapur. Jadi saya pilih model kompor yang simpel dan ga banyak detil, sehingga proses perawatannya nggak butuh wkt banyak.
Stopkontak dan penerangan juga harus dipikirkan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya ditempat mana aja yang perlu penerangan. kalau saya sih, karena sering menghias kue malam hari, selain diatas sink dan kompor, ada juga sudut lebar yang dikasih penerangan. Stopkontak juga disesuaikan di tmpat mana saya muat meletakkan juicer,  magic jar dan kitchenaid mixer saya.
Jadi gitu deh cerita tentang dapur, penuh perjuangan, bahkan ada acara tambal menambal lubang tmpat masuknya jari memutar kob gas alam. Tapi jujur aja,  saya cinta banget sama dapur ini. Saya bisa nyaman memasak sambil baca, dengerin musik, melihat ikan dan bbm-an  bahkan buka laptop di dapur:)
Mudahan-mudahan postingan ini bermanfaat buat keluarga muda yang sedang memulai hidupnya. Jangan menyerah buat memberikan kenyamanan bagi keluarga tercinta:).
(gambarnya menyusul ya......ngetik di kantor nih, padahal fotonya di rumah)

Selengkapnya...

Oleh-oleh Singapore

Emang buku ginian ga ada di Indonesia? mana saya tau, yang jelas buku ini saya beli waktu ke nemenin Safhira piknik ke negara tetangga itu. Selama dua hari di Singapore, sebagian besar waktu kami habis di Universal Studio. Tempat blanja juga dijambangi sih, tapi ga ada yang dibeli selain parfum buat oleh-oleh, pernak-pernik Hello Kitty buat Shafira dan balsem tiger buat bagi-bagi sesama ibu-ibu di tanah air:). Guide kami sampai bingun dan komen: "Ibu agak aneh ya, biasanya kalo ada yang ke Mustafa, tentengannya banyak banget", katanya. 
Sore hari kedua, berdua shafira nyoba jalan naik bis. tujuannya ke mall-mal yang ada disekitar hotel, agak takjub liat tas-tas bermerek yang harganya puluhan juta. Buat saya uang sebanyak itu mending buat kursus masak atau buat beli mesin kue, hahahaha.  Tapi satu hal yang menarik disalah satu mall itu adalah Toko Buku Kinokuniya. Satu jam muter2 disana, beli buku ini. Ini buku yang dikarang sama pemilik Planet cake. Isinya selain resep-resep andalan dari Planet Cake, juga contoh cake yang dicover pake pondant berikut detail-detail bikinnya step per-step. Suatu waktu nanti saya aplot resep-resepnya ya.................
Selengkapnya...